Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Septy prima anggraini Nurul Kotimah Aris Noviani Tempo Detiknews Media Indonesia Jawa Pos Okezone Yahoo News New York Times Times Forbes
Google Yahoo MSN
Bank Indonesia Bank Mandiri BNI BCA BRI Cimb Niaga BII
ibu hawa Antenatal care aniz KTI-PTK Akuntansi Komputer Media Pend.Askeb Media Bidan Pendidik Kampus
Free Template

Jumat, 08 Juli 2011 | 06.06 | 0 Comments

Identifikasi masalah yang terjadi dalam pemberian asuhan kebidanan di komunitas

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian terpadu dari Pembangunan Nasional yang antara lain mempunyai tujuan untuk mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir batin. Salah satu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang mempunyai derajat kesehatan yang tinggi, karena derajat kesehatan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang sehat akan lebih produktif dan meningkatkan daya saing bangsa. Oleh karena itu pembangunan kesehatan menempati peran penting dalam Pembangunan Nasional.
Kesehatan adalah tanggungjawab bersama dari setiap individu, masyarakat, pemerintah dan swasta. Apapun peran yang dimainkan pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatan mereka, hanya sedikit yang akan dicapai. Perilaku sehat dan kemampuan masyarakat untuk memilih dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan.
Kondisi sehat merupakan keadaan yang didambakan oleh setiap manusia. Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dan diarahkan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas dan taraf hidup serta kecerdasan dan kesejahteraan rakyat pada umumnya merupakan suatu yang mutlak untuk dilakukan. Tanpa pembangunan kesehatan yang baik, yang diwujudkan dengan peningkatan taraf kesehatan Bangsa Indonesia, pembangunan sektor yang lain dapat menjadi sia-sia.
Masalah reproduksi di Indonesia mempunyai dua dimensi. Pertama yang laten yaitu kematian ibu dan kematian bayi yang masih tinggi akibat berbagai faktor termasuk pelayanan kesehatan yang relatif kurang baik. Kedua ialah timbulnya penyakit degeneratif yaitu menopause dan kanker.
Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting dan strategis terutama dalam penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Bidan memberikan pelayanan kebidanan yang berkesinambungan dan paripurna, berfokus pada aspek pencegahan, promosi dengan berlandaskan kemitraan dan pemberdayaan masyarakat bersama-sama dengan tenaga kesehatan lainnya untuk senantiasa siap melayani siapa saja yang membutuhkannya, kapan dan dimanapun dia berada. Untuk menjamin kualitas tersebut diperlukan suatu standar profesi acuan untuk melakukan segala tindakan dan asuhan yang diberikan dalam seluruh aspek pengabdian profesinya kepada individu, keluarga dan masyarakat, baik dari aspek input, proses dan output.

II. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dibuat suatu rumusan masalah : “Apa saja masalah yang terjadi dalam pemberian asuhan kebidanan di komunitas beserta solusinya?”

III. Tujuan
1. Untuk mengetahui masalah dalam pemberian asuhan kebidanan di komunitas
2. Untuk mengetahui solusi dalam mengatasi masalah dalam pemberian asuhan kebidanan di komunitas





BAB II
PEMBAHASAN

I. MASALAH-MASALAH KEBIDANAN DI KOMUNITAS
1. Kematian Ibu dan Bayi
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia diperkirakan 248/100.000 kelahiran hidup (SDKI 2007). Itu artinya jika diperkkirakan setiap tahun ada lima juta ibu yang melahirkan maka setiap tahun pula ada sebanyak 18.000 ibu yang meninggal dunia atau 2 orang ibu setiap satu jam. Dan tiga penyebab utama kematian ini adalah perdarahan (28%), eklampsia (24%) dan infeksi (11%). Berdasarkan data itu, angka kematian ibu indonesia menempati peringkat tertinggi di Asia tenggara.
Persoalan terpenting lainnya adalah persoalan kelangsungan hidup anak. Dari 18 juta balita yang ada di Indonesia saat ini, paling tidak 5 juta diantaranya menderita kekurangan gizi dan 1,7 juta lainnya mengalami gizi buruk (kompas,26/1/2007). Penyebabnya adalah faktor kemiskinan dan faktor lain adalah budaya dan ketidaktahuan. Hal ini pula yang menyebabkan tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia. Berdasarkan Hukum Development Report tahun 2007, AKB Indonesia bertengger pada posisi 43,5/1000 kelahiran hidup, dan itu artinya dari 5 juta bayi yang lahir, 217 ribu diantaranya meninggal dunia atau sekitar 650 anak setiap harinya.
Penyebab kematian ibu adalah:
• Perdarahan 42%
• Eklamsia 13%
• Komplikasi Aborsi 11%
• Infeksi 10%
• Partus lama 9%
• Tidak diketahui 15%

Seperti: - Sosial ekonomi
- Pendidikan
-Kedudukan dan peran wanita
-Sosial budaya
-Trasportasi
Penyebab kematian bayi adalah:
• Derajat kesehatan hamil rendah dan komplikasi obstetri
• Proses persalinan (aspiksia, trauma, hipotermi)
Peran bidan dan solusi:
1) Melakukan promosi kesehatan meliputi edukasi dan konseling untuk meningkatkan perilaku sehat, untuk meningkatkan pengetahuan tentang kehamilan dan untuk meingkatkan kenyamanan individu dan kemampuan dalam berdiskusi tentang kesehatan dan sistem perawatan medis.
2) Melakukan program pencegahan kelahian preterm, penghitungan gerakan janin untuk mengetahui bayi beresiko asfiksia, promosi pemberian ASI dan penyediaan pemberian intervensi edukasi.
3) Melakukan pembinaan kepada kelompok sasaran yaitu ibu hamil, ibu bersalin, keluarga, tokoh masyarakat setempat.
4) Melakukan pencatatan kelahiran dan kematian ibu dan bayi serta mengidentifikasi penyebab kematian ibu dan bayi dengan melibatkan peran serta masyarakat.
5) Menggerakkan sasaran agar mau menerima pelayanan KIA sebagai upaya untuk mencegah kematian ibu dan bayi
6) Bekerja sama dengan tokoh masyarakat untuk mengadakan desa siaga yang meliputi pengaturan transportasi setempat yang siap melakukan rujukan kedaruratan, mengadakan pengaturan biaya bagi masyarakat yang tidak mampu atau dapat mengadakan tabungan ibu bersalin pada ibu haml sebagai persiapan untuk biaya persalinannya nanti, melakukan pengorganisasian donor darah berjalan serta mencari calon pendonor bagi ibu bersalin nanti sebagai antisipasi jika dalam persalinan ibu terjadi perdarahan sehingga tidak sampai terjadi kematian ibu.
7) Melakukan pelaksanaan pertemuan rutin GSI (gerakan sayang ibu) dalam promosi “suami, bidan dan desa SIAGA”

2. Kehamilan Remaja
Hasil survey dilaporkan bahwa Perilaku seksual remaja yang mengaku terus terang pernah hubungan seks adalah Perempuan : < 1% dan Laki-laki : 5% dan hasil survey lainnya melaporkan siswa-siswi di 3 SMU DKI 2002 pernah hubungan seks,yang terdiri dari Laki-laki : 8,9% dan Perempuan : 7,2%. Angka remaja hamil di Indonesia masih sulit untuk didapatkan karena masih ditutupi/dirahasiakan.Dalam hal ini perlu peran para bidan untuk mensosialisasikan fungsi alat reproduksi dikalangan remaja pra pubertas dan pubertas. Pengalaman seksual dan penggunaan kondom (susenas, 2002) Umur Perempuan Laki-laki 15-19 tahun 34,7% 30,9% 20-24 tahun 48,6% 46,5% Tempat tinggal Perempuan Laki-laki Kota 44,2% 44,1% Desa 30,3% 29,9% Masalah yang berhubungan dengan kehamilan remaja adalah jumlah/ proporsi adanya penolakan beberapa pihak sekolah terhadap pemberian pendidikan seks kepada remaja. Akibat yang paling terlihat adalah meningkatnya angka aborsi yang tidak aman serta perkawinan usia muda. Peran bidan dan solusi: 1) Melakukan pendekatan kepada pihak sekolah dan tokoh masyarakat untuk mendapatkan dukungan mengenai upaya pencegahan terjadinya kehamilan pada remaja yaitu dengan melakukan penyuluhan kepada para remaja tentang kesehatan reproduksi organ reproduksi, bahaya seks bebas,bahayanya hamil saat remaja dll. 2) Mengumpulkan data di masyarakat tentang kejadian kehamilan remaja serta dampaknya pada remaja maupun lingkungan sekitarnya 3) Membekali masyarakat dengan pengetahuan tentang pendidikan seks kepada orang tua serta remaja sehingga orang tua dapat mendidik anaknya dan tidak semata-mata menganggap seks itu tabu yang mengakibatkan para remaja tidak megetahui bahaya dari seks bebas pada remaja. 4) Membuat suatu program atau suatu perkumpulan remaja berupa kegiatan positif bagi remaja sesuai dengan kesepakatan masyarakat yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri. 3. Unsafe Abortion Berdasarkan penjelasan pasal 15 ayat 12 UU Kes No.23/ 1992 dinyatakan bahwa peluang untuk beraborsi tetap terbuka, tetapi hanya dilakukan dalam keadaan darurat. Pegertian unsafe abortion adalah pengguguran kandungan yang dilakukan dengan tindakan yang tidak steril serta tidak aman secara medis. Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari aborsi adalah: 1) Gangguan psikis 2) Perporasi 3) Infeksi 4) Syok Peran bidan dalam menangani unsafe abortion adalah; 1) Memberikan penyuluhan pada klien tentang efek-efek yang ditimbulkan dari tindakan unsafe abortion 2) Untuk bidan atau nakes perlu disadari bahwa siapa saja yang melakukan tindakan aborsi tanpa indikasi (ilegal) akan dijerat hukum denda dan hukuman kurungan serta perjanjian kepada Tuhan yang maha Esa 4. BBLR Berat badan bayi < 2500 gram. Masih rendah masa gestasi dan makin kecil bayi yang dilahirkan, semakin tinggi morbilitas bayi. Faktor predisposisi BBLR adalah: 1) Faktor Ibu • Riwayat kelahiran prematur sebelumnya • HAP • Malnutrisi • Hidramnion • Penyakit kronis (jantung) • Hipertensi • Umur ibu < 20 tahun dan > 35 tahun
• Jarak kelahiran < 2 tahun
2) Faktor janin
• Cacat bawaan
• KPD
• Hidramnion
3) Ekonomi yang rendah
4) Kebiasaan
• Pekerjaan yang melelahkan
• Merokok
5) Tidak diketahui
Peran bidan dan solusi:
1) Melakukan KIE pada waktu pemeriksaan kehamilan tentang asupan nutirsi selama hamil dan meninjau ulang status pekerjaan dan membantu membuat keputusan mengenai persalinan. Mengkaji kesiapan ibu untuk kelahiran dan persalinan serta kesiapan keluarga untuk bayi baru lahir.
2) Meningkatkan peran serta keluarga dan masyarakat agar mau menerima pelayanan KIA sebagai upaya untuk mencegah kejadian BBLR dan penangananya.
3) Bekerja sama dengan tokoh masyarakat untuk mengadakan desa siaga yang meliputi pengaturan transportasi setempat yang siap melakukan rujukan kedaruratan, mengadakan pengaturan biaya bagi masyarakat yang tidak mampu.

5. Tingkat Kesuburan
Tingkat fertilitas/ tingkat kesuburan yang mana sumbernya adalah PUS (pasangan usia subur) merupakan salah satu masalah kebidanan komunitas yang perlu mendapatkan perhatian karena dengan tingginya tingkat fertilitas ta npa diiringi oleh tingkat pengetahuan akan sistem reproduksi akan meningkatkan AKI dan AKB.
Peran bidan dan solusi:
1) Memberikan penyuluhan pada PUS tentang sistem reproduksi dalam kehidupan suami istri.
2) Meningkatkan peran serta kedua pasangan untuk dapat saling bekejasama dalam menangani masalah infertilitas.

6. Pertolongan Persalinan oleh Non Nakes
Biasanya disebabkan oleh tingkat kepercayaan masyarakat pada dukun masih tinggi, rendanya profesionalisme bidan dalam menolong persalinan, kurangnya pendekatan personal antara bidan dan bumil.
Peran bidan dan solusi:
1) Meningkatkan kebersamaan dengan anggota masyarakat, meningkatkan profesionalisme dalam bidang pertolongan persalinan.
2) Melakukan pembinaan dukun bayi dan pembinaan hasil kegiatan yang dilakukan oleh dukun bayi agar dukun bayi mau melaporkan hasil temuan di masyarakat baik dari ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dan dukun mau bekerja sama dengan bidan sehingga persalinan oleh non nakes dapat dikurangi.
7. PMS
PMS adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Umumnya mata rantai penularan PMS adalah PSK. Rasio penularan akan meningkat bila pemakaian kondom dan hubungan seksual dengan PSK tidak dilakukan. PMS banyak ditemui Gonorrhoe (GO), sifilis, trikomoniasis, herpes simpleks, HIV/AIDS.
Peran bidan dan Solusi:
1) Memberikan penyuluhan tentang resiko yang ditimbulkan akibat seks bebas yang dilakukan bukan dengan pasangan yang sah terutama dengan PSK
2) Penyuluhan tentang penggunaan kondom dalam kondisi tertentu.

8. Perilaku dan sosial budaya yang berpengaruh pada pelayanan kebidanan di komunitas.
1) Masalah yang berhubungan dengan sosila budaya masyarakat adalah
• Kurangnya pengetahuan, salah satunya di bidang kesehatan
• Adat-istiadat yang dianut/ berlaku di wilayah setempat
• Kurangnya peran serta masyarkat
• Perilaku masyarakat yang kurang terhadap kesehatan
• Kebiasaan-kebiasaan/ kepercayaan negatif
2) Sosial budaya yang ada di masyarakat memberi pengaruh pada masyarakat tersebut yaitu pengaruh positif dan negatif
Sosial budaya masyarakat yang bersifat positif antara lain:
• Rasa kekeluargaan dan semangat gotong royong
• Mengutamakn musyawarah dalam mengambil keputusan
• Rasa tolong menolong/ perasaan senasib sepenanggungan
3) Perilaku sosial budaya yang berpengaruh pada pelayanan kebidanan
a. Hamil
Perilaku sosial budaya masyarakat selama kehamilan
• Upacara-upacara yang dilakukan untuk mengupayakan keselamatan bagi janin dalam prosesnya menjadi bayi hingga saat kelahirannya adalah upacara mitoni, procotan dan brokohan
• Mengidam, dikotomi panas dingin
• Larangan masuk hutan
• Pantangan keluar waktu maghrib
• Pantangan menjalin rambut karena bisa menyebabkab lilitan tali pusat
• Pantangan nazar karena bisa menyebabkan air liur menetes terus
Peran bidan terhadap perilaku selama hamil
• KIE tentang menjaga kehamilan yaitu dengan ANC tertaur, konsumsi makanan bergizi, batasi aktifitas fisik, tidak perlu pantang makan
• KIE tentang segala sesuatu sudah diatur Tuhan Yang Maha esa, mitos yang tidak benar ditinggalkan
• Pendekatan kepada tokoh masyarakat untuk mengubah tradisi negatif atau berpengaruh buruk terhadap kehamilan
b. Persalinan
Perilaku sosial budaya selama persalinan:
• Bayi laki-laki adalah penerus keluarga yang akan membawa nama baik
• Bayi perempuan adalah penerus atau penghasil keturunan
• Memasukkan minyak ke dalam vagina supaya persalina lancar
• Melahirkan di tempat terpencil hany adengna dukun
• Minum air rumput fatimah dapat membuat persalinan lancar
Peran bidan di komunitas terhadap perilaku selama persalinan:
• Memberikan pendidikan mengenai konsep kebersihan baik drai segi tem pat maupu peralatan
• Bekerja sama dengan dukun dan tenaga kesehatan setempat.
c. Nifas dan bayi baru lahir
Perilaku sosial budaya yang mempengaruhi masa nifas dan bayi baru lahir:
• Pantang makan ikan, pedas, asin
• Tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari karena bisa sawan
• Tidak bolennh makan terong karena bisa membuat bayi panas dingin
• Minum jamu dapat memperlancar ASI
• Upacara adat; brokohan, sepasaran, selapanan
• Menaruh ramuan pada tali pusat
• Khitan yang dilakukan pada bayi perempuan
Peran bidan di komunitas terhadap perilaku masa nifas dan bayi baru lahir:
• KIE perilaku positif dan negatif
• Memberikan penyuluhan tentang pantangan makanan selama masa nifas dan menyusui sebenarnya kurang menguntungkan bagi ibu dan bayi
• Memberikan pendidikan tentang perawatan bayi baru lahir yang benar meliputi cara merawat tali pusat, memandikan bayi, menjaga kehangatan dan menyusui yang benar.
• Memberikan penyuluhan pentingnya pemenuhan gizi selama masa pasca bersalin, bayi dan balita

II. STRATEGI PELAYANAN KEBIDANAN DI KOMUNITAS
1. Pendekatan edukatif dalam Peran Serta Masyarakat.
Pelayanan kebidanan komunitas dikembangkan berawal dari pola hidup masyarakat yang tidak lepas dari faktor lingkungan, adat istiadat, ekonomi, sosial budaya dll. Sebagian masalah komunitas merupakan hasil perilaku masyarakat sehingga perlu melibatkan masyarakat secara aktif. Keberadaan kader kesehatan dari masyarakat sangat penting untuk meningkatkan rasa percaya diri masyarakat terhadap kemampuan yang mereka miliki.
1) Definisi
Secara umum
Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis, terencana dan terarah dengan partisipasi aktif individu, kelompok, masyarakat secara keseluruhan untuk memecahkan masalah yang dirasakan masyarakat dengan mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi dan budaya setempat.
Secara khusus
Merupakan model dari pelaksanaan organisasi dalam memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat dengan pendekatan pokok yaitu pemecahan masalah dan proses pemecahan masalah tersebut.
2) Tujuan pendekatan edukatif
a. Memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang merupakan masalah kebidanan komunitas.
b. Kembangkan kemampuan masyarakat, hal ini berbeda dengan memecahkan masalah yang dihadapi atas dasar swadaya sebatas kemampuan.
3) Strategi dasar pendekatan edukatif
a. Mengembangkan provider
Perlu adanya kesamaan persepsi dan sikap mental positif terhadap pendekatan yang ditempuh serta sepakat untuk mensukseskan.
Langkah-langkah pengembangan provider
• Pendekatan terhadap pemuka atau pejabat masyarakat.
Bertujuan untuk mendapat dukungan, sehingga dapat menentukan kebijakan nasional atau regional. Bentuknya pertemuan perorangan, dalam kelompok kecil, pernyataan beberapa pejabat yang berpengaruh.
• Pendekatan terhadap pelaksana dari sektor diberbagai tingkat administrasi sampai dengan tingkat desa.
Tujuan yang akan dicapai adalah adanya kesepahaman, memberi dukungan dan merumuskan kebijakan serta pola pelaksanaan secara makro. Berbentuk lokakarya, seminar, raker, musyawarah.
• Pengumpulan data oleh sektor kecamatan/desa
Merupakan pengenalan situasi dan masalah menurut pandangan petugas/provider. Macam data yang dikumpulkan meliputi data umum , data khusus dan data perilaku.

b. Pengembangan masyarakat
Pengembangan masyarakat adalah menghimpun tenaga masyarakat untuk mampu dan mau mengatasi masalahnya sendiri secara swadaya sebatas kemampuan. Dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat untuk menentukan masalah, merecanakan alternatif, melaksanakan dan menilai usaha pemecahan masalah yang dilaksanakan. Langkah– langkahnya meliputi pendekatan tingkat desa, survei mawas diri, perencanaan, pelaksanaan dan penilaian serta pemantapan dan pembinaan

2. Pelayanan yang Berorientasi pada Kebutuhan Masyarakat
Proses dimana masyarakat dapat mengidentifikasi kebutuhan dan tentukan prioritas dari kebutuhan tersebut serta mengembangkan keyakinan masyarakat untuk berusaha memenuhi kebutuhan sesuai skala prioritas berdasarkan atas sumber – sumber yang ada di masyarakat sendiri maupun berasal dari luar secara gotong royong. Terdiri dari 3 aspek penting meliputi proses, masyarakat dan memfungsikan masyarakat.
Terdiri dari 3 jenis pendekatan :
1) Specifict Content Approach
Yaitu pendekatan perorangan atau kelompok yang merasakan masalah melalui proposal program kepada instansi yang berwenang.
Contoh : pengasapan pada kasus DBD
2) General Content objektive approach
Yaitu pendekatan dengan mengkoordinasikan berbagai upaya dalam bidang kesehatan dalam wadah tertentu.
Contoh : posyandu meliputi KIA, imunisasi, gizi, KIE dsb.
3) Proses Objective approach
Yaitu pendekatan yang lebih menekankan pada proses yang dilaksanakan masyarakat sebagai pengambil prakarsa kemudian dikembangkan sendiri sesuai kemampuan.
Contoh : kader

3. Menggunakan atau Memanfaatkan Fasilitas dan Potensi yang ada di Masyarakat
Masalah kesehatan pada umumnya disebabkan rendahnya status sosial – ekonomi yang akibatkan ketidaktahuan dan ketidakmampuan memelihara diri sendiri (self care) sehingga apabila berlangsung terus akan berdampak pada status kesehatan keluarga dan masyarakat juga produktivitasnya.
1) Definisi
a. Usaha membantu manusia mengubah sikapnya terhadap masyarakat, membantu menumbuhkan kemampuan orang, berkomunikasi dan menguasai lingkungan fisiknya.
b. Pengembangan manusia yang tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi dan kemampuan manusia mengontrol lingkungannya.
2) Langkah – langkah
a. Ciptakan kondisi agar potensi setempat dapat dikembangkan dan dimanfaatkan
b. Tingkatkan mutu potensi yang ada
c. Usahakan kelangsungan kegiatan yang sudah ada.
d. Tingkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
3) Prinsip - prinsip dalam mengembangkan masyarakat
a. Program ditentukan oleh atau bersama masyarakat.
b. Program disesuaikan dengan kemampuan masyarakat.
c. Dalam pelaksanaan kegiatan harus ada bimbingan, pengarahan, dan dorongan agar dari satu kegiatan dapat dihasilkan kegiatan lainnya.
d. Petugas harus bersedia mendampingi dengan mengambil fungsi sebagai katalisator untuk mempercepat proses.
4) Bentuk - bentuk program masyarakat
a. Program intensif yaitu pengembangan masyarakat melalui koordinasi dengan dinas terkait/kerjasama lintas sektoral.
b. Program adaptif yaitu pengembangan masyarakat hanya ditugaskan pada salah satu instansi/departemen yang bersangkutan saja secara khusus untuk melaksanakan kegiatan tersebut/kerjasama lintas program
c. Program proyek yaitu pengembangan masyarakat dalam bentuk usaha – usaha terbatas di wilayah tertentu dan program disesuaikan dengan kebutuhan wilayah tersebut.




BAB III
PENUTUP

I. KESIMPULAN
Kebidanan komunitas adalah pelayanan kebidanan profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi, dengan upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan kebidanan. Masalah dalam pemberian asuhan kebidanan dapat diatasi dengan adanya kerjasama antara tenaga kesehatan dan masyarakat di komunitas.

II. SARAN
Sebagai tenaga kesehatan hendaknya bidan dapat menerapkan asuhan kebidanan di komunitas dengan melibatkan peran serta masyarakat, tokoh masyarakat dan melibatkan klien sebagai mitra dalam setiap asuhan yang akan diberikan oleh bidan

DAFTAR PUSTAKA

Effendy Nasrul. 1998. Dasar – Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC
http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com
Prawiroharjo Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP
Syahlan, J.H. 1996. Kebidanan Komunitas. Yayasan Bina Sumber Daya Kesehatan.
Walsh V. Linda. 2007. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC
Widyastuti, Endang. 2007. Modul Konseptual Frame work PWS-KIA Pemantauan dan Penelusuran Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Neonatal. Unicef


Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2010 - All right reserved by Midwifery | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by h4r1
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome, flock and opera.